“Kok di-read doang, sih?”

“Kok di-read doang, sih?”

Familiar dengan kalimat di atas?

Atau

“Duh, pacar gue cuma read chat gue nih tapi ga dibales.”

Atau sindiran seperti

“Read aja chat-nya.

Atau

“Eh jangan di-read dulu chat-nya!”

Belum juga familiar?

Aku ngga tau harus ngasih contoh apa lagi. Mungkin yang ngga familiar dengan kalimat tersebut adalah manusia hipster anti teknologi yang masih melakukan surat-menyurat via burung merpati.

Semenjak tumbuh kembangnya aplikasi pengirim pesan instan, seperti yang diawali Blackberry Messenger (BBM), lalu ada Line dan WhatsApp, muncul juga kalimat-kalimat yang menunjukan rasa insecurities dari seseorang. Menurut wikipedia, aplikasi pengirim pesan instan adalah a type of online chat which offers real-time text transmission over the Internet. A LAN messengeroperates in a similar way over a local area network.

Aplikasi pengirim pesan instan ini memberi salah satu fitur mutakhir yaitu mengetahui kapan sebuah pesan atau chat sudah dibaca atau di-read. Di BBM, fiturnya muncul dengan tulisan R pada ujung pesan, sebelumnya pesan tersebut tertulis D, tanda pesan tersebut sudah terkirim. Di aplikasi Line lebih jelas lagi, di sana tertulis Read pada ujung pesan. Sedangkan di WhatsApp muncul dua tanda ceklis berwarna abu jika sudah terkirim, dan berubah warna menjadi hijau saat sudah dibaca.

Pada masa masih zamannya ber-sms ria dengan pacar, di mana provider gencar memberi promo sms murah dan sms gratis setelah mengirim 5 atau 10 sms, perasaan insecurities belum ada. Ada, mungkin tak sebesar sekarang. Mungkin hanya muncul pertanyaan seperti:

“Kok sms gue lama ya dibalesnya? Lagi sibuk mungkin.”

Namun sekarang rasa insecurities semakin memuncak. Apalagi saat pacar hanya membaca suatu pesan tapi belum sempat atau memang tidak ingin (dulu) membalas pesan tersebut. Terlebih lagi seorang pacar yang posesif, pasti akan uring-uringan setelah tau chat­-nya tersebut hanya dibaca namun tak berbalas. Lalu muncul lah kalimat-kalimat yang ada di awal tulisan tadi.

Hal ganjil ini juga bukan muncul pada si pengirim pesan. Namun juga si pengirim pesan. Mereka – si penerima pesan, saat sedang malas atau tidak ingin membalas pesan tersebut, pasti akan membiarkan pesan tersebut tidak dibaca, agar tak ada tanda R, tulisan Read, atau dua tanda ceklis biru (atau hijau?). Mereka menjaga perasaan si pengirim pesan, seolah-olah si penerima pesan memang sedang sibuk dan tidak sempat membaca chat tersebut. Padahal ia sedang tidak ada kerjaan dan tidak ingin membalas chat tersebut.

Kira-kira begini situasinya:

“Minjem hape lo, dong”

“Nih.”

“Eh, chat dari siapa nih?! CIE. Gue buka ya chat­-nya!”

“EH JANGAN! JANGAN DI-READ DULU! NANTI AJA DI-READ-NYA!”

Familiar? Familiar dong. Mungkin kalian salah satu dari mereka. Entah si peminjem hape, atau yang punya hape. Atau si pengirim pesan.

Seharusnya, aplikasi pengirim pesan instan, saat ini menambahkan beberapa fitur baru dari yang udah ada. Jadi urutan sebuah pesan dari mengirim sampai dibalas seperti ini

D = Delivered atau pesan sudah dikirim

K = Know. Saat si penerima pesan sudah tahu ada pesan masuk, tapi belum ingin membaca.

P = Procrastinating. Saat si penerima pesan sudah tahu ada sebuah pesan atau chat yang masuk, tapi menunda untuk membalasnya. Banyak hal yang membuat si penerima pesan untuk menunda membalasnya. Lagi selingkuh, misalnya

WR = Willing to Read. Saat si penerima pesan sudah ingin membaca sebuah pesan. Bisa juga NWR = Not Willing to Read, saat penerima sudah tahu ada pesan dan menundanya, lalu ia tidak ingin membaca pesan tersebut.

R = Read. Saat pesan sudah dibaca.

WRep = Willing to Reply. Saat si penerima pesan sudah ingin membalas. Atau NWRep = Not Willing to Reply. Saat si penerima sedang tidak ingin membalas atau tidak ingin membalas sama sekali.

T = Thinking. Saat si penerima pesan sedang bingung akan memabalas sebuah pesan. Biasanya pesan dari/untuk gebetan yang masih canggung untuk berbalas pesan.

Typing…= obviusly

Voila! Pesan sudah terkirim dan tertulis D. Lalu ulangi urutannya dari atas.

Fitur-fitur baru tersebut akan mengurangi rasa insecurities dari pacar atau gebetan. Memang, mengapa pesan di-read doang masih menjadi misteri. Situasi ini membuat seseorang uring-uringan. Penasaran. Juga geregetan.

P.S.: Mungkin aplikasi pengirim pesan instan ini bisa menambahkan fitur baru, misalnya keterangan NWRbRepAC = Not Willing to Read but Reply Another Chat. Saat si penerima pesan tidak ingin membaca suatu pesan, tapi membaca dan membalas pesan dari pengirim lain

Advertisements

Lupa Menjadi Siapa

 

Aku siapa?

Tanyaku saat berkaca

Akan kemana?

Tanyaku saat langkah menjejak tanah

 

Untuk apa?

Tanyaku ketika menuliskan bait-bait puisi ini

Untuk siapa?

Pikirku tentang seseorang yang entah siapa

 

Sampai di mana?

Kerut dahiku membayangkan puisi yang tak ada ujungnya

Ini apa?

Ini aku yang lupa menjadi siapa.

Lupa Cara Menjadi Teman

Kita menjadi lupa

Saat hati belum tertaut

Setiap kata yang dulu menyalak

Sekarang menjadi lemah dan lembut

Sekarang baru kita sadari

Kata yang dulu keras dan menyalak

Lebih memacu adrenalin dan gelora

Dari pada kata yang lembut dan menari-nari

Mungkin engkau lebih suka

Aku yang datang tiba-tiba

Tiba-tiba yang bikin engkau terperanjat dalam suka

Daripada aku yang selalu ada

Semua telah berlalu

Dalam waktu yang tak kita sadari

Semua masa pada suka yang pasti

Kita lupa cara menjadi teman

Dua Masa

Dua masa satu manusia

Satu kata beda makna

Dua masa satu manusia

Satu hati namun beda rasa

 

Hapus duka dalam lara

Hilang tangis dalam air mata

Hilang sendu dalam lagu

Hilang kamu dalam ingatanku

 

Melayang dan kalut

Mengawang lalu redup

Hilang lalu larut

Menyingsing hingga mati

 

Air Mata di Kereta, Jogja, dan Mama Papa

Untuk perantau macam aku, hal paling sentimentil adalah saat aku keinget keluarga. Papa dan mama terutama. Terakhir jumpa mereka saat kami di Jogja, liburan dadakan kami. Awalnya aku yang mau ke Jogja. Jogja pun menjadi pilihan keduaku sebenarnya, setelah Surabaya. Jadi, beberapa hari setelah aku mengabarkan mereka kalau aku akan ke Jogja, mama menelpon. Dia bilang, “kamu jadi ke Jogja? Mama dan papa berangan-angan, kalau kami nyusul ke sana gimana?” maka jadilah liburan kami.

Mama dan papa belum pernah ke Jogja, aku pun belum. Saat itu hari Senin, mama yang awalnya bercanda aja nanya ke papa, “ke jogja yuk, pa, nyusul endi?” tapi papa nanggepinnya serius. Nggak lama mama langsung nelpon aku. Sorenya langsung pesen tiket pesawat Batam-Jogja untuk hari Rabu. Aku berangkatnya besok subuhnya.

***

Awalnya aku mau ke Surabaya. Ketemu temen satu SMA yang ada di sana. Irwan namanya. Irwan sebelumnya pernah ke Jatinangor nyamperin aku di sini. Maksud hati ingin membalas kunjungannya, tapi apa daya hati ingin lebih ke Jogja.

Pertimbangan aku lebih milih Jogja, karena lama perjalanan lebih pendek, tiket kereta lebih murah, dan temen-temen SMA lebih banyak di sana. Dan dari dulu juga emang pingin ke sana. Cuma belum kesampaian.

Berangkatlah aku ke Jogja. Kereta berangkat jam sekitar jam 05.20, sampai sekitar jam 2 siang. Tak banyak cerita menarik di kereta. Cuma aku yang duduk bareng dua sejoli Unpad juga, dari FH, yang sebelumnya satu desa KKN bareng temen sejurusan dan kenal dengan temen KKN ku yang dari FH juga.

Sampai di Stasiun Lempuyangan, temenku yang menjemput, Elfakhri namanya. Malamnya aku langsung ketemu beberapa temen yang kuliah di Jogja. Besoknya aku jemput mama papa ke Bandara Adisutjipto, setelah sebelumnya nyari hotel di daerah Malioboro.

Malamnya, kami nyari makan di daerah Malioboro dan jalan-jalan di sana. Besoknya, kami merental mobil dan supir untuk jalan-jalan ke tempat wisata di daerah Jogja. Kami jalan-jalan ketempat wisata standar turis di sana seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan Gunung Merapi.

Mama dan papa menikmati waktu liburannya. Selama di sana, dari pagi sampai sore aku bareng mereka. Malamnya aku ketemu temen-temen SMA di sana. Papa mama di sana sampai Sabtu. Pesawatnya berangkat sekitar jam 12, keretaku berangkat malem harinya dan sampai kira-kira pukul 2 malam.

***

Belum puas rasanya ketemu mama papa dan temen-temen SMA di sana. Sabtu siang aku nganterin mama papa ke bandara. Lalu dari bandara aku dijemput temenku, Gabriella namanya. Dari bandara kami singgah makan sebentar, lalu ke kontrakan Elfakhri dan Febrian. Di sana juga ada Davi, temen satu SMA yang kuliah di Trisakti. Tapi nyusulin aku ke Jogja. Awalnya dia ada kuliah, tapi libur karena banjir di Jakarta.

Dari sana kami nongkrong lagi buat yang terakhir. Abis nongkrong kami langsung ke stasiun. Kereta berangkat sekitar pukul 6.30 sore. Kereta ekonomi yang tempat aku duduk seat-nya 3-3 berhadapan. Aku duduk bareng satu keluarga dengan bapak-bapak dan ibu-ibu, dengan anak dan cucunya. Satu lagi dengan perempuan yang di kereta sendirian. Aku duduk di aisle.

Bapak-bapak dan ibu-ibu itu mungkin seumuran mama papaku. Lihat mereka langsung keinget mama papaku. Di kursi seberangku sebelah kanan ada satu keluarga. Seorang ayah dan ibunya serta dua anaknya yang masih umur sekitar 6 yang perempuan dan 3 tahun yang laki-laki, lalu dengan seorang perempuan sendirian.

Anaknya yang perempuan sedang sakit. Saat kereta baru jalan si anak muntah beberapa kali. Untung perempuan yang bersama mereka, turun di stasiun tak lama kemudian. Ibunya bulak-balik ke WC ngebersihin baskom kecil tempat anaknya muntah. Tak lama, anaknya yang tidur di kursi, ibunya tidur sama anaknya yang laki-laki. Lalu bapaknya tidur di kolong kursi mereka.

Karena lapar dan haus, aku ke gerbong depan tempat penjualan makanan. Di sana aku makan dan ngopi. Tak lama aku balik ke kursiku. Di sana posisi mereka masih sama. Anak yang laki nggak mau tidur. Saat kereta berhenti di satu stasiun, si anak ingin jalan-jalan keluar. Tapi si ibu melarangnya. Dengan earphone terpasang di telinga, aku melihat si ibu melarang anaknya untuk jalan-jalan keluar. Aku tahu si ibu menjaganya agar tidak terjadi apa-apa. Melihat raut muka dan gerak mulut si ibu, mungkin dia melarang sambil marah-marah. Tapi dengan earphone terpasang, aku tahu maksud hati si ibu tanpa melihat ia marah-marah.

Semua orang tua pasti begitu terhadap anaknya. Menjaga anaknya bagaimanapun caranya. Karena aku masih pake earphone, aku tidak melihat amarahnya dan hanya tahu maksud dari tindakannya. Orang yang mendengar mungkin hanya melihat kalau si ibu orang yang pemarah. Namun begitulah caranya, kadang-kadang. Melarang anaknya, yang masih kecil, dengan kata-kata yang tegas. Bukan marah. Aku pun dulu sering begitu. Mama atau papa terkadang marah. Aku hanya tahu kalau mereka marah-marah, tanpa tahu maksud hatinya. Di sana aku teringat mama papa lagi. Mengingat mungkin aku dulu, waktu masih kecil, sering bertindak nakal dan membahayakan diri, dan mama papa melindungiku.

Tak sadar air mataku pun jatuh. Sebelum di Jogja, aku ketemu mereka saat kakakku nikah Desember lalu. Cuma seminggu kurang lamanya. Makanya saat mama papa ingin nyusul ke Jogja, aku langsung mengiyakan. Tak tahu kapan ketemu mereka lagi. Libur semester ini aku mulai job training di media massa cetak. Belum tahu bisa pulang atau tidak.

Mereka pun sudah tua. Mama sudah memperingati supaya aku cepat-cepat lulus. Setidaknya sebelum mama pensiun dua tahun lagi, aku sudah lulus. Papa udah pensiun dari 2012 lalu. Tak tega rasanya melihat mereka, saat hari tuanya masih mempunyai beban untuk membiayaiku kuliah. Tak tega melihat mereka hidup susah, misal berdesak-desakan di kereta dan tidur di kolong kursi.

***

Aku doakan mama dan papaku selalu sehat dan mudah rezeki.

Doa anakmu yang mungkin tidak terlalu soleh.

Aku pulang

“pulang”

Sebuah kata yang hampir tak pernah kusebut satu semester kuliah ini. Satu kata yang hampir tak pernah kusebut semasa kuliah, selama di kampus, di Jatinangor.

Ke kosan?

Itu bukan pulang. Mungkin hanya balik, balek kalau Bahasa Melayu-nya. Baliak kalau Bahasa Minang-nya (kalau tidak salah). Balik ke kosan. Bukan pulang ke rumah.

Tanggal 9 lalu aku pulang. Satu semester sekali aku pulang. Pulang kali ini prematur, lebih cepat dari biasanya. Pulang saat masa-masa ujian. Pulang saat teman-teman perantauan lain belum pulang.

Pulang kali ini bukan dalam rangka liburan. Pulang kali ini karena kakak ku, Kak Vivi, nikah pada tanggal 11 lalu. Satu hari sebelum papaku ulang tahun, yang ke 59. Kalau tidak salah.

Tanggal 9 itu aku pulang dengan penerbangan jam 5 sore. Dari Jatinangor ada yang menemani, sampai Bandung. Dari Bandung lanjut dengan travel ke Bandara Soekarno-Hatta. Di sana aku bertemu dengan salah satu sepupuku dari Bekasi. Anaknya Bude (kakaknya papa). Hanya dia yang bisa menghadiri nikahan kakak ku (dari keluarga Bude).

Untuk yang menemani perjalananku dari Jatinangor ke Bandung, Terimakasih, ya.

Tak ada ­delayed. Perjalanan berjalan tepat waktu. Aku sampai sekitar pukul setengah 7 malam. Mama, papa, kedua kakak ku dan satu keponakanku.

Aku pulang.

Aku di Tanjungpinang sekitar 6 hari. Dari Selasa sampai Minggu. Selama itu aku manfaatkan sebaik yang aku bisa. Di sana, aku ke Akau (semacam pujasera yang menjual banyak sekali makanan) 3 kali, makan seafood, di trikora, ke pantai trikora, ke tepi laut sambil berburu matahari terbenam, makan mi lendir sambil ngopi, ke sekolahku dulu, dan ngopi sambil mengerjakan tugas di salah satu tempat ngopi.

Selama di sana aku juga jadi supir. Bulak-balik pelabuhan menjemput sodara, dan nganterin sodara makan dan ke pantai.

Aku balik, ke kosan.

Minggu pagi jam 8 keberangkatanku balik ke Jatinangor. Sampai Bandara Soekarno-Hatta seblum jam 9. Jam 9 aku naik travel ke Bandung. Sampai Bandung, berat rasanya langsung balik ke Jatinangor. Aku makan dulu, menunda-nunda.

Sorenya aku sampai Jatinangor. Memahami kenyataan aku pulang lagi lebaran tahun depan. Aku nggak pulang lagi pas setelah uas dan setelah KKN pun (KKN Januari-Februari) pun aku nggak pulang.

Pulang.

Satu kata lagi yang ku ucap lagi saat lebaran nanti.

Panggung Pertama Setelah Dua Semester

Sudah hampir dua semester aku nggak ngerasain panggung band. Sudah hampir dua semester juga aku nggak ngerasain bagaimana rasa deg-degannya sebelum manggung. Hampir dua semester juga aku nggak dapat foto jelek di panggung pas main drum – drummer susah dapet foto bagus pas manggung.

***

Tau, kan, kalau aku ini anak band banget? Jadi sebuah dosa, pengalaman buruk, mimpi buruk, era kelam, zaman kegelapan, atau apalah, frasa yang menggambarkan masa-masa tanpa panggung band selama kurang lebih dua semester ini.

Panggung terakhirku itu waktu Festival Musik Fikom (dulu namanya British Invasion) tahun lalu. Itu semester dua pertengahan lah kira-kira. Sekarang manggung lagi di semester empat akhir. Hampir dua semester. Kurang lebih satu tahun.

Panggung kali ini juga pas Festival Musik Fikom (tahun ini namanya Music Festfile). Kali ini bukan sebagai peserta, tapi sebagai pengisi acara. Aku manggung bareng divisi Music Development-nya UKM musik di kampusku – KMF namanya.

tumblr_inline_n7cqnuSrh21sed2bq *gambar diambil dari google*

***

Awalnya di grup line MD KMF, ditanya siapa yang mau manggung bareng MD di FMF dan aku ngedaftarin diri. Sebenarnya udah dari jauh-jauh hari dikasih tau kalau MD-nya KMF itu bakalan manggung pas FMF. Tapi aku nggak ngeh sama FMF-nya itu sendiri. Nggak tau FMF-nya kapan dan di mana. Terus tiba-tiba aja gitu, pas H-3, dikasih setlist lagu yang bakal dibawain. Ada 5 lagu awalnya, terus dipotong jadi 4.

Jadi, H-3 dikasih setlist, H-2 dan H-1-nya langsung latihan di studio. Aku masih belum banyak kenal orang-orang di satu band ini. Cuma teman seangkatan dan si manajer doang. Karena yang lain itu mahasiswa angkatan 2013 yang memang belum banyak aku kenal.

Empat lagu yang bakal dibawain itu ada Queen-Somebody to Love, The Groov-Khayalan, sama dua lagu ciptaan anak-anak MD. Latihan pertama di studio, satu setengah jam diabisin sama lagu Queen. Emang agak susah. Apalagi kami vokalisnya banyak. Latihan ke dua udah lumayan lancar semuanya.

***

Pas hari-H aku datang agak sorean. Datang pas mau nampil doang. Nyampe Institut Francais Indonesia (IFI), Bandung, langsung deg-degan. Seneng. Karena ngerasain gimana rasanya deg-degan sebelum manggung. Deg-degan takut salah. Deg-degan takut dimarahin personel lain kalo salah. Takut nggak ditawari manggung lagi kalo dimarahin personel lain kalo salah mainnya.

Terus gimana pas kami manggung? Pecah abis, kalo kayak anak-anak gaul bilang. Apalagi pas lagunya The Groove. Rame banget. Seneng liat crowd-nya begitu. Seneng manggung lagi.

Beres manggung banyak anak KMF yang nyelamatin kami. Kami keren katanya. Termasuk aku pastinya. Semoga. Soalnya divisi MD ini sebelumnya nggak pernah semaju ini, kata mereka. Jadi MD sekarang keren banget.

1403357552313 *temen yang motret*

***

Besoknya, pas hari minggu, di grup line kosan, ada yang ngajak liburan. Dia bilang, “ada yang mau ke Karimun Jawa? Berangkat besok, senin malam.” Lalu aku mengiyakan……